Sahabat,
sering kita mendengar kata ikhlas dalam interaksi berasama orang-orang terdekat
kita. “Kalo nolong orang tuh harus ikhlas” itulah kata-kata yang sering
terdengar di telinga. Boleh jadi saat memberikan uang sumbangan, saat membantu
orang yang kesusahan, atau saat meminjamkan uang kepada teman yang terkadang
membutuhkan. “Ia saya ikhlas membantu kamu” kalimat ini juga sering muncul dari
lisan kita.
Ikhlas itu
bukan sekedar ucapan dalam bentuk kata-kata. Atau tulisan-tulisan dalam buku
diary dan media sosial. Ikhlas adalah sifat memurnikan, meluruskan niat dan
melapangkan dada terhadap perintah Allah SWT dan larangan-Nya. Serta berlapang
atas musibah (ujian) dari Allah SWT. Gerbang keikhlasan itu terletak pada hati
yang melingkupi nurani. Hati yang ikhlas tidak mengharapkan sesuatu atau banyak
hal atas perbuatan baik tersebut, melainkan hanya mengharap ridho Allah SWT.
Sehingga mereka senantiasa beramal karena Allah SWT, baik dalam keadaan lapang
maupun sempit.
Seorang yang
ikhlas adalah yang hatinya tetap teguh atau konstan dalam kondisi dan situasi
apapun. Pada saat diuji dengan kemiskinan, tak merubah hatinya untuk taat
kepada Allah SWT. Begitupula saat diberikan anugerah melimpah dengan kekayaan
yang banyak, mereka tetap taat menjalankan perintah-Nya. Tidak merasa sombong
dan justru ringan bersedekah karena-Nya. Sebab harta dunia adalah titipan
sementara dan tak ada nilainya jika tidak digunakan di jalan Allah SWT. Inilah
yang menjadi cara pandang sederhana bagi seseorang yang ikhlas atas segala ketetapan
dari-Nya.
Keikhlasan
dalam beramal merupakan proses yang panjang, bahkan sampai akhir hayat. Karena
ada tiga hal yang harus dijaga dalam diri agar senantiasa ikhlas.
Yang pertama adalah niatnya harus lurus
karena Allah SWT. Jika salah niatnya, maka salah juga hasilnya. Benar niatnya,
insya Allah benar pula hasilnya. Semua amal perbuatan yang tidak diniatkan
karena-Nya maka akan tertolak dan menjadi sia-sia. Ibnu Qoyyim Alzauziyah mengatakan
seorang yang beramal tanpa ikhlas ibarat membawa batu kerikil di pundaknya
melewati padang pasir yang tandus. Berat membawanya tapi tidak memberi manfaat
apa-apa. Jangan biarkan amal perbuatan kita sia-sia hanya karena salah niat.
Padahal niat itu adalah perkara yang sangat mudah dan murah. Tidak perlu
mengeluarkan tenaga dan biaya. Hanya mengkondisikan hati untuk jeda sebentar
dan izin kepada Allah SWT dengan cara berniat.
Yang kedua adalah saat melakukan amal
sholeh tersebut, tetap menjaga keikhlasannya. Jangan sampai terpancing atau
tergoda oleh bujuk rayu syaitan. Misalkan ada seseorang yang berniat bersedekah
untuk pembangunan masjid. Di hatinya sudah mantap berniat karena Allah SWT.
Namun saat uang sumbangan tersebut diberikan kepada petugas pencatat donasi,
kemudian diumumkan di speaker masjid. Secara tidak sadar seorang penyumbang
tadi merasa paling berjasa karena telah menyumbang besar. Timbullah perasaan
sombong, riya, dan pengen dipuji orang di sekitarnya. Dengan demikian maka
rusaklah amal tersebut walaupun amal kebaikan. Sebab hatinya berubah menjadi
sombong dan membanggakan diri. Semestinya bagi seorang yang ikhlas itu saat
dipuji tidak terbang dan tersanjung, dan saat dihina tidak tumbang.
Yang ketiga adalah setelah melakukan amal kebaikan.
Maksudnya, tetap dijaga ketulusannya setelah melakukan amal kebaikan dalam
kodisi apapun. Namun terkadang memang sulit menjaga keikhlasan tanpa ada
pertolongan dari Allah SWT. Pengennya membanggakan (merasa berjasa) dan
menceritakan amal kebaikan kita kepada orang-orang di sekitar kita. Ini nih
yang sering kali terjadi dalam kehidupan kita. Misalkan ada seorang dermawan
yang berusaha membantu seorang anak jalanan untuk bisa sekolah. Dibiaya semua
kebutuhan sekolahnya beserta uang jajannya. Sejak awal memang dia pengen
membantu sesame yang sedang benar-benar membutuhkan. Niatnya ikhlas karena
Allah SWT, begitu juga saat prosesnya.
Namun ketika
melihat seorang anak tersebut mulai sukses dan menjadi orang yang bermanfaat
untuk masyarakat. Akhirnya seorang dermawan tersebut kepancing untuk
mengungkapkan perasaan bangganya. “Tahu engga, dia bisa sukses seperti itu
karena saya yang sekolahin dulunya. Dan juga bayarin semua kebutuhan hidupnya.
Kalo dulu saya gak peduli, mungkin dia masih ada di jalanan”. Ketika ungkapan
itu terlontar dari lisannya, dengan keangkuhan menyampaikan di hadapan orang-orang
sekelinglingnya. Apakah niat menolong tersebut masih ikhlas? Dan apakah orang
tersebut adalah diri kita?? Semoga tidak.
Masya Allah.
Saat perasaan bangga tersebut muncul dengan diiringi rasa ingin dipuji, merasa
berjasa dan ingin mendapat pengakuan dari manusia. Inilah yang disebut dengan
riya. Maka saat itu pula, boleh jadi keikhlasannya rusak dan hilang. Ketika
keikhlasan hilang dari dalam hati kita, saat itu pula pahala amal perbuatanpun
hilang. Allah SWT berfirman :
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang
yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin
yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu
menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari
apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang kafir.
(QS. Al-Baqarah : 264)
Hanya
gara-gara merasa paling berjasa. Padahal karunia nikmat dan harta itu adalah
milik Allah SWT. Tidak ada yang perlu dibanggakan dari apa yang kita miliki.
Semestinya sebagai hamba yang mukhlasin atau seorang hamba yang sedang belajar
ikhlas, berusaha sekuat hati untuk tidak menghitung-hitung amal perbuatan kita.
Biarkanlah berlalu, seakan-akan kita tidak pernah melakukan amal apapun. Karena
memang niatnya ibadah karena Allah SWT. Semakin kita ikhlas, maka hati kita
semakin bercahaya karena hidayah-Nya.
Bolehkah kita berharap kepada Allah SWT atas amal yang kita lakukan. Jawabannya sangat boleh, bahkan harus. Ya. Kita memang harus berharap hanya kepada Allah SWT semata. Tidak boleh berharap kepada selainnya. Karena ikhlas itu adalah segala perbuatan yang diniatkan hanya karena-Nya, baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat. Hatinya senantiasa terjaga untuk berharap kepada Allah SWT sampai ajal tiba. Karena balasan yang paling baik di sisi-Nya adalah ketika berada di dalam surga.
No comments:
Post a Comment