Wednesday, 22 April 2020

PAT PAI Tahun Pelajaran 2019/2020

Assalamualaikum..
Anak-anak, berikut ini adalah soal PAT PAI Tahun Pelajaran 2019/2020:

Klik link dibawah ini!
https://quizizz.com/join?gc=263896

Selamat mengerjakan!

Tuesday, 21 April 2020

Monday, 20 April 2020

RPP KELAS VII SEMESTER 2

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah
:
SMPIT Widya Cendekia
Mata Pelajaran
:
Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester
:
VII / 2
Standar Kompetensi
:
9. Menerapkan hukum bacaan nun mati/tanwin dan mim mati
Kompetensi Dasar
:
9.1. Menjelaskan hukum bacaan nun mati/tanwin dan mim mati
Alokasi Waktu           
:
2  X  40 menit ( 1 pertemuan)

Tujuan Pembelajaran 
  • Siswa dapat menguasai konsep mengenai hukum bacaan nun mati/tanwin dan mim mati.

Karakter  siswa yang diharapkan :       Dapat dipercaya ( Trustworthines)
·         Rasa hormat dan perhatian ( respect )
·         Tekun ( diligence )
·         Tanggung jawab ( responsibility )

Materi Pembelajaran   
  • Pengertian nun mati/tanwin
  • Pengertian mim mati
  • Pembagian hukum bacaan nun mati/tanwin
  • Pembagian hukum bacaan mim mati

Metode Pembelajaran 
  • Ceramah
  • Tanya jawab
  • CTL

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Pendahuluan
  • Guru bertanya mengenai ilmu tajwid.
  • Guru memotivasi siswa mengenai keutamaan belajar ilmu tajwid dan manfaatnya.
  • Guru memilih beberapa siswa yang mempunyai kemampuan membaca Al-Qur'an di atas rata-rata untuk menjadi .
  • Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil (small group) dan menempatkan dalam setiap kelompok.

Kegiatan Inti
1)     Eksplorasi
·         Guru menjelaskan ketentuan-ketentuan bacaan nun mati/tanwin.
·         Guru memberi penjelasan singkat mengenai pengertian nun mati/tanwin serta pembagiannya.
2).  Elaborasi
·         Siswa mencari, menemukan, dan mengklasifikasikan huruf-huruf izhar, idgham bighunnah, idgham bilaghunnah, ikhfa’, dan iqlab.
·         Siswa berdiskusi dan mengidentifikasi lafaz yang mengandung bacaan izhar, idgham bighunnah, idgham bilaghunnah, ikhfa’, dan iqlab.
·         Guru menjelaskan ketentuan-ketentuan bacaan mim mati.
·         Guru memberi penjelasan singkat mengenai pengertian mim mati serta pembagiannya.
·         Siswa mencari, menemukan, dan mengklasifikasikan huruf-huruf izhar syafawi, ikhfa’ syafawi, dan idgham mimi.
·         Siswa berdiskusi dan mengidentifikasi lafaz yang mengandung bacaan izhar syafawi, ikhfa’ syafawi, dan idgham mimi.
3)    Konfirmasi
·         Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
·         Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan )

Kegiatan Penutup
  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  • menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Sumber Belajar           
·        Buku Ayo Belajar Agama Islam untuk SMP
·        LKS MGMP PAI
·        Mushaf Al-Qur’an
·        VCD pembelajaran

Penilaian                     
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik Penilaian
Bentuk Instrumen
Instrumen / Soal
§  Menjelaskan pengertian nun mati/tanwin.
§  Menjelaskan pengertian mim mati.
§  Menyebutkan contoh-contoh bacaan nun mati/tanwin dan mim mati.
Tes tertulis
Tes uraian
§  jelaskan pengertian nun mati/tanwin.
§  jelaskan pengertian mim mati.
§  Sebutkan contoh-contoh bacaan nun mati/tanwin dan mim mati.
§  Buatlah skema pembagian hukum bacaan nun mati/tanwin!
§  Sebutkan huruf-huruf izhar!
§  Sebutkan huruf-huruf idgham bighunnah dan bilaghunnah!
§  Sebutkan huruf-huruf ikhfa’!
§  Sebutkan huruf iqlab!
§  Buatlah skema pembagian hukum bacaan mim mati!
§  Sebutkan huruf-huruf izhar syafawi!
§  Sebutkan huruf-huruf ikhfa’ suafawi!
§  Sebutkan huruf idgham mimi!
§  Apakah perbedaan izhar khalqi dengan izhar syafawi?


Serang 8 Januari 2020
Mengetahui                                                      Guru Mapel PAI
Kepala Sekolah



Nidi Sarmidzi, M.Pd.I                                       Nidi Sarmidzi, M.Pd.I
NIPY. 031.400.                                                   NIPY. 031.400.0389


Saran Kepala Sekolah:
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................


Untuk lebih jelasnya, yuk kita simak tayangan video berikut ini ya. Mudah banget kalo kita cermati dengan baik. Silakan menonton!







Sumber :




Agar kita mengetahui pemahaman siswa, berikut kuis untuk materi di atas.






Semoga bermanfaat dan berkah.
Terima kasih

Friday, 17 April 2020

BELAJAR IKHLAS

Sahabat, sering kita mendengar kata ikhlas dalam interaksi berasama orang-orang terdekat kita. “Kalo nolong orang tuh harus ikhlas” itulah kata-kata yang sering terdengar di telinga. Boleh jadi saat memberikan uang sumbangan, saat membantu orang yang kesusahan, atau saat meminjamkan uang kepada teman yang terkadang membutuhkan. “Ia saya ikhlas membantu kamu” kalimat ini juga sering muncul dari lisan kita.

Ikhlas itu bukan sekedar ucapan dalam bentuk kata-kata. Atau tulisan-tulisan dalam buku diary dan media sosial. Ikhlas adalah sifat memurnikan, meluruskan niat dan melapangkan dada terhadap perintah Allah SWT dan larangan-Nya. Serta berlapang atas musibah (ujian) dari Allah SWT. Gerbang keikhlasan itu terletak pada hati yang melingkupi nurani. Hati yang ikhlas tidak mengharapkan sesuatu atau banyak hal atas perbuatan baik tersebut, melainkan hanya mengharap ridho Allah SWT. Sehingga mereka senantiasa beramal karena Allah SWT, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

Seorang yang ikhlas adalah yang hatinya tetap teguh atau konstan dalam kondisi dan situasi apapun. Pada saat diuji dengan kemiskinan, tak merubah hatinya untuk taat kepada Allah SWT. Begitupula saat diberikan anugerah melimpah dengan kekayaan yang banyak, mereka tetap taat menjalankan perintah-Nya. Tidak merasa sombong dan justru ringan bersedekah karena-Nya. Sebab harta dunia adalah titipan sementara dan tak ada nilainya jika tidak digunakan di jalan Allah SWT. Inilah yang menjadi cara pandang sederhana bagi seseorang yang ikhlas atas segala ketetapan dari-Nya.

Keikhlasan dalam beramal merupakan proses yang panjang, bahkan sampai akhir hayat. Karena ada tiga hal yang harus dijaga dalam diri agar senantiasa ikhlas.

Yang pertama adalah niatnya harus lurus karena Allah SWT. Jika salah niatnya, maka salah juga hasilnya. Benar niatnya, insya Allah benar pula hasilnya. Semua amal perbuatan yang tidak diniatkan karena-Nya maka akan tertolak dan menjadi sia-sia. Ibnu Qoyyim Alzauziyah mengatakan seorang yang beramal tanpa ikhlas ibarat membawa batu kerikil di pundaknya melewati padang pasir yang tandus. Berat membawanya tapi tidak memberi manfaat apa-apa. Jangan biarkan amal perbuatan kita sia-sia hanya karena salah niat. Padahal niat itu adalah perkara yang sangat mudah dan murah. Tidak perlu mengeluarkan tenaga dan biaya. Hanya mengkondisikan hati untuk jeda sebentar dan izin kepada Allah SWT dengan cara berniat.

Yang kedua adalah saat melakukan amal sholeh tersebut, tetap menjaga keikhlasannya. Jangan sampai terpancing atau tergoda oleh bujuk rayu syaitan. Misalkan ada seseorang yang berniat bersedekah untuk pembangunan masjid. Di hatinya sudah mantap berniat karena Allah SWT. Namun saat uang sumbangan tersebut diberikan kepada petugas pencatat donasi, kemudian diumumkan di speaker masjid. Secara tidak sadar seorang penyumbang tadi merasa paling berjasa karena telah menyumbang besar. Timbullah perasaan sombong, riya, dan pengen dipuji orang di sekitarnya. Dengan demikian maka rusaklah amal tersebut walaupun amal kebaikan. Sebab hatinya berubah menjadi sombong dan membanggakan diri. Semestinya bagi seorang yang ikhlas itu saat dipuji tidak terbang dan tersanjung, dan saat dihina tidak tumbang.

Yang ketiga adalah setelah melakukan amal kebaikan. Maksudnya, tetap dijaga ketulusannya setelah melakukan amal kebaikan dalam kodisi apapun. Namun terkadang memang sulit menjaga keikhlasan tanpa ada pertolongan dari Allah SWT. Pengennya membanggakan (merasa berjasa) dan menceritakan amal kebaikan kita kepada orang-orang di sekitar kita. Ini nih yang sering kali terjadi dalam kehidupan kita. Misalkan ada seorang dermawan yang berusaha membantu seorang anak jalanan untuk bisa sekolah. Dibiaya semua kebutuhan sekolahnya beserta uang jajannya. Sejak awal memang dia pengen membantu sesame yang sedang benar-benar membutuhkan. Niatnya ikhlas karena Allah SWT, begitu juga saat prosesnya.

Namun ketika melihat seorang anak tersebut mulai sukses dan menjadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat. Akhirnya seorang dermawan tersebut kepancing untuk mengungkapkan perasaan bangganya. “Tahu engga, dia bisa sukses seperti itu karena saya yang sekolahin dulunya. Dan juga bayarin semua kebutuhan hidupnya. Kalo dulu saya gak peduli, mungkin dia masih ada di jalanan”. Ketika ungkapan itu terlontar dari lisannya, dengan keangkuhan menyampaikan di hadapan orang-orang sekelinglingnya. Apakah niat menolong tersebut masih ikhlas? Dan apakah orang tersebut adalah diri kita?? Semoga tidak.

Masya Allah. Saat perasaan bangga tersebut muncul dengan diiringi rasa ingin dipuji, merasa berjasa dan ingin mendapat pengakuan dari manusia. Inilah yang disebut dengan riya. Maka saat itu pula, boleh jadi keikhlasannya rusak dan hilang. Ketika keikhlasan hilang dari dalam hati kita, saat itu pula pahala amal perbuatanpun hilang. Allah SWT berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
(QS. Al-Baqarah : 264)

Hanya gara-gara merasa paling berjasa. Padahal karunia nikmat dan harta itu adalah milik Allah SWT. Tidak ada yang perlu dibanggakan dari apa yang kita miliki. Semestinya sebagai hamba yang mukhlasin atau seorang hamba yang sedang belajar ikhlas, berusaha sekuat hati untuk tidak menghitung-hitung amal perbuatan kita. Biarkanlah berlalu, seakan-akan kita tidak pernah melakukan amal apapun. Karena memang niatnya ibadah karena Allah SWT. Semakin kita ikhlas, maka hati kita semakin bercahaya karena hidayah-Nya.

Bolehkah kita berharap kepada Allah SWT atas amal yang kita lakukan. Jawabannya sangat boleh, bahkan harus. Ya. Kita memang harus berharap hanya kepada Allah SWT semata. Tidak boleh berharap kepada selainnya. Karena ikhlas itu adalah segala perbuatan yang diniatkan hanya karena-Nya, baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat. Hatinya senantiasa terjaga untuk berharap kepada Allah SWT sampai ajal tiba. Karena balasan yang paling baik di sisi-Nya adalah ketika berada di dalam surga.

PAT PAI Tahun Pelajaran 2019/2020

Assalamualaikum.. Anak-anak, berikut ini adalah soal PAT PAI Tahun Pelajaran 2019/2020: Klik link dibawah ini! https://quizizz.com/join?...